Sejarah

Pada tahun 1675, Ds. Montanus, seorang pendeta Belanda untuk pertama kali mengunjungi Manado. Dalam kunjungannya, Montanus mengetahui di Manado sudah ada sekelompok orang Kristen. Data-data sejarah menyebutkan bahwa pemukiman pertama di Manado dimulai saat pembangunan Benteng Pertahanan VOC Belanda. Benteng bernama Fort Nieuw Amsterdam (Port Amsterdam Baru) yang didirikan atas prakarsa Pemerintah Hindia Belanda. Dahulu benteng ini berada di belakang Taman Kesatuan Bangsa (TKB), depan Jumbo Supermarket sekarang. Saat itu diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Robertus Padtbrugge. Sayang, benteng ini hancur saat penyerangan Tentara Sekutu ke Manado di tahun 1944.

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan benteng, atas izin Kepala Walak Ares, Belanda mendirikan perkampungan di daerah samping benteng. Jika melihat posisi kota saat ini, kawasan perkampungan Belanda berbentuk empat persegi yang dibatasi jalan raya, mulai dari Jalan Dotu Lolong Lasut, Jalan Sarapung, Jalan Korengkeng, dan Jalan Sam Ratulangi. Dahulu, kompleks perumahan itu disebut firkante pallen (empat persegi). Berdiri di kawasan ini, rumah residen Manado, rumah pejabat-pejabat Belanda dan penduduk ketururunan Belanda. Gereja Sentrum Manado (sekarang ini) merupakan salah satu peninggalan zaman tersebut yang dibangun hampir bersamaan dengan benteng Fort Amsterdam. Gereja Sentrum dibangun sebagai sarana beribadah jemaat Kristen di perkampungan Belanda tersebut.

Kilas sejarah perkembangan Gereja Sentrum Manado :

Untuk melayani jemaat yang bermukim di kompleks firkante pallen, atas permintaan Ds. Montanus, maka  pemerintahan VOC pada tahun 1677 menempatkan seorang pendeta Belanda di Manado yang bernama Pendeta Zacharias Cohen. Selama berada di Manado ia mengabdikan dirinya bagi warga. Dari sinilah kemudian jemaat  berkembang pesat dan gereja tersebut diberi nama de Groote Kerk atau Gereja Besar Manado disingkat GBM. Sejarah mencatat bahwa perkembangan kekristenan menyebar luas dari pelayanan dan penginjilan Gereja Besar Manado, yaitu pertumbuhan jemaat-jemaat lain di tanah Minahasa seperti Tanawangko, Airmadidi, Kema dan lain-lain. Pdt. Cohen juga yang berinisiatif mengirimkan tenaga-tenaga untuk menyebarkan injil ke Bolaang Mongondow. Dapat dikatakan dari sinilah awal pekabaran Injil di tanah Minahasa.

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan VOC, maka perkembangan kekristenan di tanah Minahasa dan penanganan terhadap gereja menjadi urusan Pemerintah Belanda. Gereja kemudian memakai nama Indische Kerk (Gereja Protestan Indonesia). Pada masa itu, pelayanan penginjilan serta administrasi gereja berpusat di Manado. Hal ini diatur berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh  Indische Kerk  pada waktu itu, bahwa semua pendeta pembantu (inlandsehe lehraar), semua pendeta yang bekerja di Minahasa berada di bawah pimpinan Pendeta Belanda. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya data register nikah dan baptisan jemaat-jemaat di Manado, Minahasa, bahkan sampai Sangihe dan Talaud, semuanya disimpan di Gereja Besar Manado – de Groote Kerk (Gereja Sentrum Manado sekarang).

Sebagaimana tulisan Graafland menyebutkan : Di Manado terdapat gereja panggung yang terbuat dari kayu, beratapkan sirap, lokasinya tidak jauh dari benteng berdekatan dengan penjara dan disampingnya terdapat waruga dan persekolahan. Maka yang dimaksudkan dengan bangunan tersebut adalah GBM (de Groote Kerk- gereja besar) atau yang kita kenal sekarang Gereja Sentrum Manado. Gereja tersebut memiliki lahan yang luas dan berada di pusat Manado. Sehingga Gereja Sentrum dijadikan landroad atau patokan 0 (zero point) kilo meter untuk perhitungan jarak ke daerah yang lain.

Sejak tahun 1934, Gereja Protestan yang berada di Manado, Minahasa, Bitung dinyatakan berdiri sendiri dari Gereja Protestan Indonesia (GPI)  dengan sebutan Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), tepatnya pada tanggal 30 September.

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Gereja Besar Manado pernah menjadi markas/pusat dari Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK), yang dipimpin oleh pendeta Jepang Hamasaki. Tapi sayang sekali, gedung GBM yang begitu sarat nilai historis dan religius ini hancur karena bom oleh sekutu. Maka diberi tanda prasastinya didirikan Tugu Perang Dunia II, yang berada di sebelah kiri bangunan gereja yang hancur. Tugu tersebut sampai sekarang ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu situs wisata sejarah.

Pada tahun 1952, Gereja Sentrum didirikan kembali di lokasi gereja saat ini, dibangun dalam bentuk permanen, seperti yang ada saat ini dan ditahbiskan 10 Oktober 1952. Posisi mimbar utama berada di bagian timur menghadap ke barat tetapi posisi mimbar dipindahkan kebagian barat menghadap timur, dan kemudian dipindahkan lagi ke posisi semula seperti sekarang ini.

Pada tahun pelayanan 1983 s/d 1992 sesuai data yang ada, Jemaat Sentrum Manado terdiri dari 47 kolom, dan terdapat 4 Kanisah yaitu Zaitun, Petra, Karmel dan Betania. Keempat Kanisah tersebut di masa kini sudah menjadi Jemaat-jemaat mandiri. Rangkaian mutiara zamrud Gereja Sentrum Manado pada dua dekade akhir abad ke-20,  saat memasuki abad ke-21 telah menjadi satu wilayah pelayanan GMIM bernama Wilayah GMIM Manado Sentrum, plus GMIM Jemaat Kristus Manado yang memiliki sejarah tersendiri sebagai Jemaat warga Tiong Hoa yang dibuahkan oleh Gereja Sentrum Manado. Dengan demikian buah-buah pemekaran satu jemaat (Sentrum manado), kini telah menjadi 6 (enam) jemaat mandiri dalam lingkup pelayanan Wilayah Manado Sentrum.

Berdasarakan data perjalanan sejarah di atas maka Sidang Majelis Jemaat  menetapkan Gereja Sentrum Manado lahir pada tahun 1677. Perayaan hari berdirinya Gereja/Jemaat Sentrum Manado dilaksanakan pada setiap tanggal 21 Juli. Itu berarti pada tahun 2015 ini Gereja/Jemaat Sentrum Manado telah berusia 338 tahun.

Masa kini, dengan jumlah jemaat 342 KK yang tertata secara teritorial dalam 16 kolom dan anggota non-teritorial, GMIM Jemaat Sentrum Manado berjuang menghadapi berbagai tantangan zaman dan perubahan lingkungan sebagai gereja yang berada di pusat bisnis kota Manado di era post modern.

PARA PENDETA YANG PERNAH BERTUGAS DI JEMAAT SENTRUM MANADO SEBAGAI KETUA JEMAAT/KETUA BADAN PEKERJA MAJELIS JEMAAT.

  1. Pdt. Zacharias Cohen 1677 – …
  2. Abad ke -17 s.d paruhan pertama abad ke-20 (sebelum tahun 1952 – dilayani oleh para Pendeta Belanda).
  3. Pdt. J.J. ROTTY –  tahun 1952 – 1972
  4. Pdt. J.F. PARENGKUAN – tahun 1972 – 1974
  5. Pdt. D. WENAS – tahun 1975 – 1979
  6. Pdt. H.H. TUMAMPAS, STh – tahun 1979 – 1982
  7. Pdt. M.W. ROMPIS-LUMI, STh – tahun 1982 – 1993
  8. Pdt. M.L. RINDENGAN, STh – tahun 1993 – 1999
  9. Pdt. BOYKE B. MAIT, STh, M.Min, SH – tahun 1999 – 2005
  10. Pdt. NICOLAAS Ph. KOLIBU, STh, MSi – tahun 2005 – 2010
  11. Pdt. FRANK J. SUMERAH, STh (Alm.) – tahun 2010-2013
  12. Pdt. OCTAFRITS R. RUNTUNUWU, STh – tahun 2013 – sekarang.